Skip to content

Hadiah Yang Tersembunyi

Sampai sekarang mungkin aku termasuk orang yang masih kawatir akan sebuah hubungan. “Apakah aku ini sudah mendapatkan partner yang tepat? Apakah aku sudah jujur dengan diri sendiri? Apakah aku sudah memberikan yang terbaik untuk diri sendiri?”. Berkecamuk rasa seperti itu hingga aku dipahamkan pada bentuk pernyataan bahwa seolah-olah ada tempat dimana aku bisa mencari orang tepat untuk bisa diapakan saja menurut keinginan hati. Duniaku berbeda dengan yang dimiliki orang di sekitarku saat ini. Aku rasakan itu hanya karena misi yang dibawa ke kapal ini bertambah. Sebenarnya bukan misi tetapi lebih tepatnya perasaan. “Aku ingin mengenal cinta sejati”. “Jujurkah aku pada diri sendiri tentang hal itu?”. Logikaku belum memberi jawaban yang pasti. Suatu ketika logikaku hanya memberi petunjuk yang tak kupahami kebenarannya.

Cinta sejati itu sesuatu yang spektakuler. Ia akan lebih tahu apa yang kau rasa. Ia akan mengetahui dirimu dan lebih mengetahui daripada kau sendiri.

Butuh suatu keberanian untuk mengungkapkannya. Butuh tindakan. Jujur itu modal untuk merealisasikannya.

Tapi konskuensinya apabila kau telah mengakui dan menyatakan cinta boleh diibaratkan engkau telah membiarkan singa lepas dari kandangnya.

Hari berganti hari kujalani pekerjaan demi pekerjaan dengan tidak terlalu kuambil pusing. Kuwarnai hari-hari di kapal dengan berbaur dengan canda tawa bersama teman. Ada kalanya kusempatkan diri keluar ke beberapa kota yang dikunjungi. Memang ada saat yang terkadang aku ingin menyendiri di sela-sela kesibukan. Saat itulah saat dimana orang di sekelilingku tidak bisa membuatku enjoy. Mereka hanya akan mengusik suasana hatiku yang ingin sejenak diam.

Suatu ketika aku melihat sepasang penumpang kapal yang tengah berjalan beriringan. Masuk ke dalam toko souvenir dan memilih apa yang disenangi lalu keduanya keluar dengan senyum yang menebar iri bagi orang yang melihatnya. Itulah momen yang ternyata membuat aku gelisah untuk membuat pilihan berupa “hadiah apa yang pantas aku berikan kepada orang yang aku cintai”. Statusku sebagai orang yang bekerja di kapal pesiar? Atributku sebagai orang yang gajinya dollar Amerika? Pengalamanku keliling dunia? Materi? Ataukah keadaan apa adanya diri ini yang masih banyak kekuranganya.

Akhirnya aku pada kata hatiku sendiri. Aku ingin membuat hadiah unik untuk orang yang saat ini mengusik jiwaku. Hadiah itupun tidak akan aku tunjukkan secara buru-buru. Hadiah itu akan kupersiapkan di dalam hati seiring dengan kebenaran yang akan aku terima yaitu kebenaran cinta sejati. Aku yakin suatu saat problem cinta sejati tidak hanya tampak dipermukaan saja, tetapi akan aku ketahui lebih dalam, lebih mengenai maknanya sehingga aku akan hidup di dalamnya.