Skip to content

Pengalaman Kontrak Pertama

Saya masih ingat betul keadaan pertama sewaktu tiba di dalam kapal. Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, saat pertama masuk kapal menjadi bagian penting dalam perjalanan. Saat itu tidak ada perasaan ragu untuk masuk ke kapal. Saya seperti sudah mempersiapkan segalanya. Begitu tiba di kapal baru ada yang berbeda dirasakan. Video dan gambar yang sering dipertontonkan di tempat pelatihan atau sekolah dulu tidak sama dengan kenyataan. Dalamnya Kapal pesiar yang saya lihat tidak seperti yang saya lihat di video atau gambar saat di pelatihan. Dalam video itu gambaran ruangan-ruangan dalamnya benar-benar fantastik. Sepanjang koridor dan area umum digelar karpet warna merah, sebagian lagi warna-warna unik lainnya. Lampu-lampu Kristal bergantung di sana-sini, kolam renang lengkap dengan jakuzi menambah indah keadaan. Itulah bayangan yang tergambar. Semua tidak luput dari perasaan ingin segera sampai di kapal dan ingin segera menyaksikannya. Ternyata fasilitas yang seperti itu adalah untuk tamu yang berpesiar. Untuk area karyawan ternyata tidak ada karpet karena alasan menghindari bahan yang berpotensi cepat terbakar.


4 April 1999, saya terbang ke Singapore. Kapal pertama sudah berada di sana. Pihak agen menjemput dan mengantarkan saya ke dalam kapal. Saya langsung dipandu oleh beberapa petugas dari staf HRD (Human Resourches Department), kalau sekarang berganti nama menjadi HRO (Human Resourches Officer).


“Ini kunci kamar, dan di sanalah kamu akan tinggal”. Ucap salah satu dari mereka kebetulan berbahasa Indonesia karena juga orang dari Indonesia. Ternyata saya tidak menemukan karpet merah dan lampu Kristal yang bergantung. Saya menyusuri koridor yang panjang yang menghubungkan antara pintu masuk kapal dengan kamar yang dituju. Lurus, kemudian berbelok, lalu turun satu tangga ke bawah yang disambut dengan koridor-koridor lainnya. Sesampainya di tempat tersebut saya masih binggung mencari nomor kamar yang dituju,. Seseorang memberi tahu arah mana yang harus diambil. Hari itu boleh dikatakan jam-jam pertama tiba di kapal. Saya masih sangat teks book. Saya bertanya menggunakan bahasa Inggris. Seketika saya kaget, ketika pertanyaan berbahasa Inggris dijawab dengan bahasa jawa. “Podo jawane mas”. Kontan rasa kaget dan senang campur jadi satu.


Akhirnya saya tiba juga di tujuan. Saya menempati kamar dengan empat tempat tidur model bertingkat. Saya kebagian salah satu tempat tidur bagian atas, sebab sudah ada tiga orang yang menggunakannya. Masih dalam taraf menyesuaikan diri, saya mulai berkenalan dengan orang yang lebih dulu menempati kamar.


Hari pertama ternyata banyak kegiatan yang harus diikuti. Setelah menaruh koper dan tas, saya harus mengikuti program safety training. Program tersebut diikuti oleh siapa saja yang baru datang di kapal. Saya diperkenalkan tentang standar keselamatan dan beberapa standar untuk bagaimana menyelamatkan diri andai kapal dalam keadaan darurat. Video dan beberapa literatur yang berkenaan dengannya diperlihatkan. Saya mengikuti tahap demi tahap. Jika dalam keadaan darurat yang harus saya ingat adalah mengambil life jacket (jacket pelampung), kemudian menuju ke Life raft (perahu karet) sesuai dengan nomor yang tertera di jacket.


Life raft merupakan perahu karet atau rakit penyelamat. Alat itu mempunyai kapasitas penumpang terbatas. Daya tampung penumpang rata-rata 25 hingga 35 orang. Secara teknis fungsi life raft adalah untuk penyelamatan khusus bagi crewmember .


Hari berganti, bersamaan pula pekerjaan di hari pertama saya mulai. Saya datang ke area pekerjaan yang disambut oleh supervisor lengkap dengan selembar kertas bertuliskan job description atau rincian pekerjaan yang menjadi tugas saya setiap hari. Pekerjaan demi pekerjaan akhirnya saya mulai. Saya langsung diperkenalkan dengan soapy-soapy. Seperti kebanyakan teman yang lain, soapy-soapy ternyata menjadi hal yang ingin sekali bisa dihindari. Soapy-soapy hanya pengganti nama dari kata bersih-bersih yang bahasanya diadopsi dari kata soap (sabun). Hari itu juga saya langsung diberi tiga buah ember dengan warna merah, abu-abu dan putih untuk membersihkan tempat kerja. Tanggung jawab saya terhadap pekerjaan bersih-bersih dibantu oleh ketiga ember tersebut.


Sebagai informasi saja, bahwa tiga buah ember warna merah, abu-abu dan putih itu telah menjadi standar departemen kesehatan Amerika (USPH-United State Public Health) untuk proses sanitasi. Tidak hanya kepada saya, semua orang yang bekerja di bagian hotel ternyata harus mengikuti standar tersebut. Semua orang harus tahu fungsi ketiga ember tersebut yang tak lain dalam teori disebut dengan three buckets system. Ember warna merah tersebut harus diisi dengan air sabun, abu-abu dengan air hangat dan ember warna putih diisi dengan air hangat yang dicampur dengan bahan yang disebut dengan chlorine. Semua ada ukuran masing-masing. 100 PPM untuk ukuran chlorine per embernya. Dengan melihat kertas tester kita bisa tahu berapa PPM (part per million) yang harus dituang. Kita tidak boleh asal-asalan menggunakan perlengkapan kebersihan tersebut. Setelah tiga buah ember itu siap sedia, mulailah membersihkan permukaan-permukaan area tempat kita bekerja.


Bersih-bersih menjadi bagian yang mau tidak mau harus dilakukan. Banyak orang mengatakan bahwa, yang berat sewaktu soapy-soapy bukanlah pekerjaannya itu, melainkan atasan yang memberi kontrol ketika pekerjaan itu dilakukan. Ada beberapa atasan selalu tidak merasa puas dengan apa yang telah dikerjakan.


Setelah soapy-soapy selesai, minimal satu orang dari atasan datang membawa lampu senter untuk melakukan pengecekan. Kotoran sekecil apapun, bisa menjadi bahan untuk membuat nilai rapor kerja bulanan (rating card) hancur.


Masa-masa yang demikian bisa menjadi mimpi buruk bagi sebagain orang di kapal. Ada yang mempunyai terapi negatif setiap kali bangun pagi hanya karena menghadapi pekerjaan soapy-soapy. Awalnya memang dikarenakan pekerjaan tersebut, lambat laut menyangkut beberapa cara atasan mengomentari pekerjaan yang terlalu dilebih-lebihkan. Keadaan yang mewarnai kontrak pertama saya adalah lebih banyak mendengar ancaman-ancaman yang bersifat sepihak saja.
“kerja yang benar, di Indonesia mau kerja apa loe”. “Beruntung nich kita mendapatkan pekerjaan yang bergaji dollar, sekarang kan lagi susah cari kerja”. Mengapa sepihak? karena pada dasarnya perusahaan tidak demikian. Perusahaan mempunyai standar yang bagus untuk kemajuan manajemen. Sebagai contoh adanya managemen behavior, hal itu untuk menghasilkan orang-orang yang berkelakuan baik dalam managemen, bukan menghasilkan orang-orang yang dengan kuasanya sok merasa memiliki power dan bisa semena-mena.


Sebenarnya apa yang membuat soapy-soapy seperti night mare bagi banyak orang di kapal? Mengapa harus ada soapy-soapy? Mungkin sedikit kita bisa menelusurinya. United State Public Health atau yang disingkat dengan USPH, merupakan departemen kesehatan Amerika yang mempunyai standar kesehatan bagi warganya. Kapal pesiar yang berlabuh atau masuk ke perairan Amerika harus mengikuti semua standar tersebut. Setiap enam bulan sekali USPH akan masuk ke kapal dan melakukan pengecekan. Nilai atau poin yang harus bisa diraih adalah minimal 85%, kalau tidak kapal dianggap gagal masuk standar sebagai ganti kapal akan diikat, tidak boleh berlayar sampai kondisi menjadi baik. Sewaktu kapal berada di wilayah Eropa, boleh dikatakan, suasana dalam bekerja tidak delamatis. Secara yuridis, USPH tidak memiliki wewenang di wilayah Eropa. Lalu bagaimana keadaan crew itu sendiri? Jujur menurut saya, Eropa lebih santai dan jadwal soapy-soapy tidak terlalu padat seperti ketika berada di Amerika.


Bukankah kalau demikian, semua itu karena pengaruh sistem? Benar, menurut saya pengaruh yang ditimbulkan tentang enak tidak enaknya di kapal tidak luput dari sistem itu sendiri. Karena sistem yang super ketat, maka suasana yang dihasilkan juga tidak nyaman. Sistem dengan standar yang tinggi menjadikan perilaku atasan mau tidak mau menekan bawahan dengan maksud mencapai standar tinggi tersebut. Bawahan akan banyak mengeluh dan mau tidak mau pula harus menerima apa yang didapat, walaupun dalam hati banyak yang tidak terima bahkan dengan sumpah serapah terucap sekalipun.


Hal yang banyak dilakukan selama ini ibarat permainan peran. Beberapa orang menggunakan teknik Asal Bapak Senang. Setiap ada jadwal soapy-soapy bisa saja orang tersebut tidak seratus persen membersihkan, tetapi hanya memilih sudut-sudut strategis saja. Kemudian untuk mengelabuhi pihak atasan yang nantinya mengadakan pengecekan, lap yang dipakai untuk membersihkan dituangi cairan chlorine agar bau yang ditimbulkan membuktikan bahwa area tersebut sudah disanitasi dengan bahan pembersih. Pokoknya ada saja tingkah laku yang sebenarnya dibuat-buat. Jadwal atasan mengadakan pengecekan biasanya setelah beberapa jam soapy-soapy itu dimulai. Hal itu mudah diketahui sebelumnya. Jadi begitu atasan datang melakukan pengecekan maka orang tersebut dengan pura-pura serius membersihkan kolong-kolong yang susah dijangkau. Tindakan yang dilakukan akan terlihat seperti orang yang tengah giat bekerja, padahal akting. Sebagai gantinya, asal si bos atau bapak senang. Benar saja, ada atasan yang dengan demikian malah lebih suka.


Standar yang tinggi itu secara teori memang bagus. Karena banyaknya orang, tidak semua orang berlaku sama. Standar bintang lima seperti di kapal pesiar seolah-olah produk jadi. Tapi apa dibalik produk jadi tersebut, banyak sekali variasinya. Hari ini bisa saja Anda menikmati buah di kamar penthouse dengan pisau buah yang telah tersedia di kamar. Tetapi beberapa waktu sebelumnya, ketika Cabin Steward membersihkan kamar mandi, bisa jadi ia telah menggunakan pisau tersebut untuk fungsi lain. Pisau tersebut telah dipakai untuk memotong kotoran manusia di toilet bowl karena pada saat itu si penghuni kamar lupa menekan tombol flush toilet. Ketika di flush ternyata kotoran tersebut terlalu besar ukurannya. Karena takut tidak bisa langsung di flush maka ide konyolnya, menggunakan pisau tersebut. Ini sebuah cerita asli dari teman yang kebetulan menjabat cabin steward, entah itu benar apa tidak yang jelas seperti sudah menjadi rahasia umum di kalangan crew bahwa bekerja di kapal pesiar itu ibarat permainan. Kita harus pintar-pintar sendiri, agar dapat bertahan minimal selama menjalani satu kontrak.


Kejadian yang aneh-aneh di kapal itu memang bisa saja terjadi. Realitanya, orang itu tidak sama dalam berperilaku. Ada yang puas dengan sistem perusahaan ada yang tidak puas tetapi tetap menjalaninya.


Minggu pertama penyesuaian diri terhadap lingkungan kapal memang sangat berat. Senior tetap saja senior. Dia bebas berkendak untuk sekedar mengerjai atau sok lebih tahu, yang jelas dalam masa penyesuaian saya langsung mendapat shock terapy dikerjain. Saya dikerjain untuk menghadap ke kapten dengan mengenakan baju batik sekaligus minta sepatu katak. Senior menyuruh untuk mendapatkan sepatu katak saya percayai. Pikir saya sepatu katak ada hubunganya dengan renang. Mungkin akan digunakan andaikata tenggelam atau bagaimana, yang jelas saya kena dikerjain sebab sepatu katak itu tidak ada dan tidak difungsikan untuk karyawan. Peristiwa tersebut akhirnya menjadi kenangan lucu untuk dikenang. Perilaku konyol ternyata memang muncul begitu saja sewaktu ada orang baru masuk ke kapal. Ide untuk memberi kejutan seringkali muncul. Hal tersebut seakan turun temurun secara sistematis.